Menjaga Lisan dan Akal di Era Digital: Antara Isu Liar, Hoax, dan Hujatan Kebencian

Screenshot_2026-04-17-11-09-52-798_com.android.chrome-edit

KHUTBAH JUM’AT

KHUTBAH PERTAMA

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, was sholatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal mursalin, Sayyidina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Amma ba’du.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT, dengan cara menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga kita semua senantiasa mendapatkan perlindungan dan petunjuk dalam menjalani kehidupan ini.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Di zaman yang serba canggih ini, informasi mengalir deras bagai air bah. Hanya dengan satu sentuhan jari, kita bisa mengetahui kejadian di belahan dunia lain dalam hitungan detik. Namun, kemudahan ini bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi memudahkan komunikasi, di sisi lain menjadi sarang bagi masalah-masalah baru yang merusak persaudaraan, yaitu isu liar, berita bohong (hoax), dan hujatan kebencian.

Kita sering melihat, bahkan mungkin membaca, bagaimana media sosial dipenuhi dengan tuduhan tanpa bukti, penyebaran berita yang belum jelas kebenarannya, dan kata-kata kasar yang memicu permusuhan. Padahal, dalam Islam, hal-hal ini sangat dilarang dan berdosa besar.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Ma’asyiral Muslimin,

Penyebaran hoax atau berita bohong adalah perbuatan dusta yang sangat dibenci Allah. Rasulullah SAW bersabda:

“Cukup seseorang dikatakan pendusta apabila ia menceritakan segala apa yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Sementara itu, isu liar atau ghibah yang dibumbui fitnah adalah memakan daging saudara sendiri. Lebih parah lagi adalah hujatan kebencian yang memecah belah umat, mengadu domba, dan menyebarkan permusuhan. Islam datang untuk menyatukan hati, bukan untuk memecah belah. Islam mengajarkan adab, bukan kekasaran.

Oleh karena itu, sebagai orang beriman, kita wajib memiliki filter dalam diri:

1. Verifikasi sebelum share: Jangan mudah termakan isu. Teliti dulu sumber dan kebenarannya.
2. Jaga lisan dan jari: Ingat, setiap kata yang tertulis atau terucap akan dicatat sebagai amal perbuatan.
3. Hentikan perdebatan yang tidak bermanfaat: Jika sebuah topik hanya memicu emosi dan kebencian, lebih baik tinggalkan.

Barakallahu li walakum fil qur’anil ‘azim. Wa nafa’ani wa iyyakum bima fihi minal ayati wa dzikril hakim. Aqulu qauli hadza wa astaghfirullaha li wa lakum, fastaghfiruh, innahu huwal ghafurur rahim.

KHUTBAH KEDUA

Alhamdulillillahi hamdan katsiran kama amar. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarik lah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, la ‘ibada illa bihi, wa la hukma illa lahu. Amma ba’du.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Mari kita terus perbaiki diri dan tingkatkan iman. Ingatlah bahwa di hadapan Allah, kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita ucapkan dan apa yang kita sebarkan.

Menebar kebencian dan fitnah tidak akan membawa kita pada kemuliaan, melainkan akan membawa pada kehancuran dan dosa yang terus berjalan selama berita itu masih dibaca orang lain. Sebaliknya, menyebarkan kebenaran dan kedamaian adalah amal jariyah yang pahalanya tidak akan terputus.

Marilah kita jadikan media sosial dan lisan kita sebagai sarana dakwah, silaturahmi, dan penyebaran kebaikan. Hindarilah menjadi orang yang suka menggunjing, memfitnah, dan menyebarkan kebencian. Jadilah orang yang menyejukkan, bukan yang menyakiti.

Semoga Allah SWT membersihkan hati kita dari rasa dengki dan benci, melindungi kita dari fitnah dunia, dan menjauhkan kita dari perbuatan yang menurunkan murka-Nya.

Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad. Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat, wal mukminina wal mukminat, al ahya-i minhum wal amwat. Innaka sami’un qaribun mujibud da’wat. Ya Allah, satukanlah hati-hati kami, perbaikilah hubungan kami, dan jauhkanlah kami dari perpecahan dan permusuhan.

Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina ‘adzabannar.

Ibadallah, innallaha ya’muru bil ‘adli wal ihsan, wa ita-i dzil qurba, wa yanha ‘al fahsya-i wal munkar wal baghyi, ya’izhukum la’allakum tadzakkarun. Fadzkurullaha azhima yadzkurkum, wasykuruhu ‘ala ni’matihi yazidkum, wal lahu khairun maa ta’malun.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.