BAZNAS Babel: Mengelola Zakat Menjadi Kekuatan Kesejahteraan di Bumi Serumpun Sebalai

100066543

Oleh : Hariyono

Senenknews.com||Di tengah tantangan geografis wilayah kepulauan yang luas, terdiri dari pulau besar dan kecil, pesisir hingga pedalaman, keberadaan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memegang peran sangat strategis dan vital. Lembaga yang diberi mandat undang-undang ini bukan sekadar pengumpul dan penyalur dana umat, melainkan telah bertransformasi menjadi pilar penting dalam upaya pengentasan kemiskinan, pemerataan ekonomi, dan penguatan sosial kemasyarakatan di Bumi Serumpun Sebalai. Perjalanan dan kinerjanya hingga hari ini layak kita soroti, apresiasi, dan evaluasi demi manfaat yang lebih besar lagi.

Transformasi Tata Kelola: Dari Sekadar Salurkan Menjadi Kelola Profesional
Jika dilihat ke belakang, pengelolaan zakat di daerah kita dulunya sering dianggap sepele, terbatas pada bantuan sembako di hari besar agama saja, dan jangkauannya belum merata. Namun dalam beberapa tahun terakhir, di bawah kepemimpinan dan arahan baru, BAZNAS Babel telah membuktikan adanya perubahan besar. Prinsip Amanah, Profesional, dan Transparan tidak lagi sekadar slogan, tapi menjadi budaya kerja.

Peningkatan kualitas tata kelola terlihat jelas: pencatatan keuangan rapi, diaudit lembaga independen, laporan dipublikasikan, dan sistem pendataan mustahik (penerima manfaat) dilakukan lebih akurat. Ini sangat penting di wilayah kepulauan seperti kita, di mana tantangan akses sulit, data berubah-ubah, dan penyebaran penduduk terpencar. Dengan manajemen yang lebih baik, kepercayaan masyarakat dan dunia usaha mulai tumbuh kembali. Masyarakat kini mulai sadar, menyalurkan zakat ke BAZNAS bukan hanya ibadah, tapi investasi sosial yang dikelola dengan standar layaknya lembaga keuangan resmi.
Kekuatan utama BAZNAS Babel yang paling saya apresiasi adalah keberaniannya menembus batas wilayah. Seperti arahan tegas Gubernur Hidayat Arsani bahwa kebaikan harus merata, BAZNAS di bawah kepemimpinan Zulhadi dan jajarannya telah membuktikan bahwa bantuan tidak hanya berhenti di ibukota provinsi atau kabupaten.

Mereka turun langsung ke pulau-pulau kecil, menyusuri jalan rusak, menyeberang selat, mendatangkan manfaat ke rumah-rumah nelayan, petani, warga pesisir, dan masyarakat di daerah terisolir yang sering kali terlewatkan bantuan. Program seperti bantuan alat tangkap, perbaikan rumah tidak layak huni, beasiswa pendidikan, hingga layanan kesehatan gratis yang dibawa ke desa-desa, adalah bukti nyata bahwa zakat di Babel benar-benar “kembali ke akar rumput”.

Ini menjawab karakteristik wilayah kita: masalah kemiskinan dan kerentanan ekonomi paling banyak ada di pesisir dan pulau. BAZNAS hadir mengisi celah itu, menjadi penopang saat nelayan sulit melaut, atau keluarga kurang mampu kesulitan biaya sekolah dan kesehatan.
Satu hal yang membedakan kinerja BAZNAS masa kini dengan masa lalu adalah pergeseran pola penyaluran. Dulu dominan bantuan konsumtif (habis dipakai), kini makin banyak program produktif dan pemberdayaan.

Di Babel, kita melihat BAZNAS tidak hanya memberi beras atau uang tunai, tapi memberi modal usaha kecil, pelatihan keterampilan, pendampingan ekonomi, dan akses pasar bagi warga binaan. Ini pendekatan cerdas dan berkelanjutan. Karena zakat sejatinya bertujuan mengubah status penerima menjadi pemberi. Di sektor pertambangan dan perikanan yang menjadi tumpuan ekonomi kita, pendampingan UMKM berbasis zakat sangat potensial dikembangkan lebih luas lagi agar bisa menciptakan kemandirian ekonomi keluarga.

Selain itu, kolaborasi yang erat dengan Pemerintah Provinsi, TP PKK, dinas-dinas terkait, dan perusahaan daerah/swasta menjadi kekuatan ganda. Zakat kini bersinergi dengan program pembangunan daerah, sehingga dampaknya berlipat ganda dan tidak tumpang tindih.
Meski capaiannya patut dibanggakan, kita juga harus objektif melihat tantangan ke depan agar kinerja makin sempurna:
1. Potensi Zakat Masih Sangat Besar, Belum Tergali Maksimal
Babel memiliki potensi ekonomi besar dari sumber daya alam, pertambangan, dan perikanan. Namun jumlah zakat yang terkumpul masih jauh di bawah potensi riil. Masih banyak perusahaan, lembaga, dan individu mampu yang belum sadar atau belum percaya untuk menyalurkan lewat lembaga resmi. Edukasi dan sosialisasi hukum serta manfaat zakat harus terus digencarkan.

2. Kesadaran dan Pemahaman Masyarakat
Masih ada anggapan zakat cukup disalurkan sendiri ke tetangga atau di masjid saja. Padahal melalui BAZNAS, dana tersebut bisa dikelola menjadi program besar yang menyentuh ribuan jiwa. Memperbaiki persepsi ini butuh waktu dan bukti kinerja nyata terus-menerus.

3. Akses Wilayah Sulit & Data Akurat
Karena kita kepulauan, biaya operasional penyaluran cukup tinggi. Diperlukan inovasi sistem distribusi agar efisien dan tepat sasaran. Selain itu, pemutakhiran data penerima bantuan harus dilakukan rutin agar yang berhak terima benar-benar yang membutuhkan, dan yang sudah mampu dicoret dari daftar.

4. Pengembangan Program Spesifik Daerah
Perlu lebih banyak program khas Babel: misal dana talangan usaha nelayan saat cuaca buruk, atau pelatihan pengolahan hasil laut/pertanian agar nilai jual naik. Program harus disesuaikan dengan budaya dan mata pencaharian warga kita.

Harapan ke Depan: BAZNAS Menjadi Motor Kesejahteraan Utama

Ke depan, saya berharap BAZNAS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung semakin kokoh menjadi lembaga pengelola zakat terbaik di tingkat nasional. Kuncinya tetap pada tiga hal: Profesionalitas yang makin tinggi, Jangkauan yang makin luas, dan Inovasi program yang makin cerdas.

Pemerintah daerah harus terus mendukung penuh, menguatkan regulasi, dan memfasilitasi agar potensi zakat daerah tergali maksimal. Sementara masyarakat, para dermawan, dan perusahaan diharapkan makin percaya dan beralih menyalurkan zakat, infak, dan sedekah lewat jalur resmi BAZNAS demi manfaat yang lebih luas, terukur, dan amanah.

Kita semua sepakat, kekayaan alam Babel adalah titipan Tuhan untuk kesejahteraan seluruh warganya. BAZNAS adalah salah satu alat utama untuk mendistribusikan kembali keadilan itu. Jika zakat dikelola benar, amanah, dan merata, maka kemiskinan bisa ditekan, kesenjangan diperkecil, dan Bumi Serumpun Sebalai akan semakin maju, makmur, dan sejahtera bersama-sama.