Rumah Adat Hingga Penggunaan Bahasa Daerah Mengemuka Dalam Diskusi LAM dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bangka Selatan

1000748383

Oleh: Iyek Aghnia

senenknews.com-Cahaya rembulan menyinari Cafe Kupinoem yang terletak di kawasan Jalan Ahmad Yani Toboali rabu (29/7) malam. Alunan musik terdengar syahdu. Meromansakan malam yang ditaburi keindahan cahaya sang rembulan.

Di deretan kursi-kursi yang tersusun rapi, para Pengurus Lembaga Adat Melayu ( LAM) yang dinakhodai Datuk Kulul Junjung Behaoh asyik berdiskusi bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bangka Selatan Anshori yang didampingi Sekretaris Dinas Firman dan Kepala Bidang Kebudayaan M.Tatang.

Kopi dan pisang goreng serta penganan kecil terhampar di meja.

Diskusi menjadi menarik dengan hadirnya Kepala Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Afriyendy Gusti dan staf yang ikut bergabung.

Beberapa catatan mengemuka dalam diskusi yang diselingi dengan alunan pantun dari Ateng Rosyadi.

Mulai dari Rumah Adat hingga penggunaan Baju Adat Bangka Selatan. Tak terkecuali penggunaan bahasa daerah pada saat momentum penting daerah, seperti Hari Jadi Kabupaten Bangka Selatan 27 Januari dan Hari Jadi Kota Toboali 25 Oktober.

Ketua Lembaga Adat Melayu ( LAM) Junjung Behaoh Datuk Kulul berharap LAM memiliki sekretariat sebagai ruang berkumpul dan pertemuan para Pengurus LAM.
” Selama ini kita berkumpul di beragam tempat. Mulai dari ruangan bidang kebudayaan hingga rumah para pengurus LAM,” ungkap Datuk Kulul.

Selain itu Datuk Kulul berharap ada upaya Pemerintah Daerah untuk mengusulkan Batin Tikal sebagai Pahlawan dari Bangka Selatan.
” Berbagai upaya telah dilakukan. Seperti seminar tentang Batin Tikal hingga penerbitan buku tentang kiprah Batin Tikal,” papar Kulul.

Menanggapi usulan dari Pengurus Lembaga Adat Melayu Junjung Behaoh, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Bangka Selatan Anshori meminta Kepala Bidang Kebudayaan untuk menginventarisir usulan dari Pengurus Lembaga Adat Melayu Kabupaten Bangka Selatan.
” Kita berupaya untuk menyelesaikan usulan dari Pengurus Lembaga Adat Melayu. Terutama soal Sekretariat,” ungkapnya.

Bagaimana pun lanjut Anshori peran Lembaga Adat Melayu Junjung Behaoh dalam pembangunan daerah, khususnya dalam bidang kebudayaan sudah terlihat nyata.
” Mulai dari penetapan Hari Jadi Kota Toboali hingga baju Adat yang akan segera memiliki payung hukumnya, berupa Perda yang akan disyahkan dalam waktu dekat ini,” papar Anshori.

Anshori berharap kolaborasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dengan Lembaga Adat Melayu Junjung Behaoh terus disinergikan.
” Tak terkecuali tentang kegiatan pada hari jadi Kota Toboali 25 oktober mendatang. Keterbatasan khususnya anggaran tak menyurutkan langkah kita bersinergi dan bekerja sama membangun daerah ini. Khususnya bidang kebudayaan,” jelas Anshori.

Di tengah deru pembangunan dan derasnya arus budaya luar, ada satu rumah yang tetap kokoh menjaga jati diri. Rumah itu bernama Lembaga Adat Melayu ( LAM )

LAM bukan hanya lembaga. LAM adalah penjaga. Penjaga bahasa, penjaga adab, penjaga cara kita menyapa, duduk, dan menghormati.

Pembangunan boleh maju, teknologi boleh canggih, tapi selama LAM masih ada, Melayu tidak akan kehilangan jiwanya.

Memajukan daerah tanpa adat, ibarat membangun rumah tanpa fondasi. Megah di luar, tapi rapuh di dalam.