Kapolri Akui Ada Ketidakpercayaan Publik di 2024 di Tengah Insiden Kontroversial

0000000000

Jakarta||senenknews.com – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengakui kepercayaan masyarakat terhadap kepolisian masih rendah di tahun 2024, dengan mayoritas netizen melontarkan sentimen negatif sepanjang tahun tersebut. Temuan itu diungkapkannya saat Laporan Akhir Tahun Polri, Selasa.

“Kami mengevaluasi kinerja Polri melalui berbagai cara, termasuk menganalisis dan menilai sentimen masyarakat di media sosial,” kata Listyo kepada wartawan.

Menurut Listyo, terdapat lebih dari 7 juta interaksi media sosial yang membahas tentang polisi di platform seperti Twitter dan TikTok pada tahun 2024.

“Dari interaksi tersebut, 46 persennya negatif,” katanya, setara dengan lebih dari 3,3 juta interaksi. Sementara itu, 37 persen interaksi atau sekitar 2,57 juta bersifat positif, sedangkan 18 persen atau sekitar 1,25 juta bersifat netral.

Listyo menghubungkan sejumlah besar tanggapan negatif tersebut dengan beberapa kasus penting yang melibatkan petugas kepolisian sepanjang tahun ini, termasuk penyelidikan internal baru-baru ini terhadap 18 petugas yang dituduh memeras peserta festival musik Djakarta Warehouse Project (DWP) asal Malaysia. Selama penyelidikan ini, polisi Indonesia menyita uang tunai sebesar Rp 2,5 miliar ($154.322).

Kontroversi lebih lanjut muncul menyusul serangkaian insiden yang melibatkan penyalahgunaan senjata api oleh polisi. Pada 22 November, Dadang Iskandar, Kepala Operasi Polres Solok Selatan, Sumatera Barat, menembak mati rekannya, Ryanto Ulil Anshar, di tempat parkir Kantor Polisi. Hanya beberapa hari kemudian, pada 24 November, penembakan fatal lainnya terjadi di Semarang, Jawa Tengah, di mana siswa berusia 17 tahun Gamma Rizkynata Oktafandy diduga dibunuh oleh petugas polisi Robig Zaenuddin. Insiden-insiden ini menimbulkan pertanyaan di kalangan anggota parlemen tentang apakah polisi Indonesia harus terus membawa senjata api.

Meski demikian, Listyo mengatakan kritik seperti itu tidak boleh menghalangi polisi untuk meningkatkan kinerjanya.

“Meski dikritik, hal ini bukan menjadi alasan Polri menyerah atau berhenti melakukan kemajuan. Sebaliknya, tantangan-tantangan tersebut menjadi motivasi bagi lembaga untuk memperkuat integritas dan meningkatkan profesionalisme dalam menjalankan tugasnya. Ini penting,” tutupnya.

Editor /Penerjemah  : Hry

Sumber jakartaglobe.id