Mengutamakan Kejujuran dan Martabat Diri dalam Meraih Jabatan

Screenshot_2026-05-08-11-54-09-170_com.google.android.googlequicksearchbox-edit

KHOTBAH JUMAT
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan Yang Maha Bijaksana, yang menempatkan seseorang pada kedudukan yang mulia bukan karena sanjungan, melainkan karena amal dan kejujurannya.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, teladan umat manusia yang selalu menegakkan kebenaran, menolak kemunafikan, dan mengajarkan kita hidup dengan bermartabat. Hadirin sekalian yang dimuliakan Allah, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada-Nya dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, agar kita selamat di dunia dan berbahagia di akhirat kelak.

Hadirin Jumat yang dirahmati Allah,
Di tengah perjalanan kehidupan, khususnya dalam dunia pemerintahan, organisasi, maupun masyarakat, sering kita jumpai berbagai cara yang ditempuh seseorang untuk meraih kedudukan, jabatan, atau kekuasaan. Ada yang berjuang dengan kerja keras, meningkatkan kemampuan, dan membuktikan kualitas diri. Namun, tidak sedikit pula yang menempuh jalan yang tercela: menjadi penjilat.

Apa yang dimaksud dengan penjilat? Secara sederhana, penjilat adalah orang yang sengaja memuji secara berlebihan, menyanjung tanpa dasar kebenaran, menutupi kesalahan orang yang dijadikan sandaran, bahkan berkata atau bertindak tidak sesuai dengan hati nuraninya semata-mata untuk mendapatkan perhatian, perkenan, hingga akhirnya memperoleh jabatan atau keuntungan pribadi. Ia tidak memandang benar atau salah, yang penting menyenangkan hati orang yang dianggap berkuasa.

Sikap ini ibarat racun yang perlahan merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Ia merusak kepercayaan, mematikan kejujuran, dan menempatkan orang yang tidak layak pada posisi yang seharusnya diisi oleh orang yang jujur dan kompeten.
Islam sebagai agama yang lurus, sangat keras mengecam sikap penjilat dan perilaku munafik yang mendasarinya. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 42:
“Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya.”

Ayat ini merupakan tegasan tegas bahwa menyembunyikan kebenaran demi menyenangkan hati orang lain, apalagi demi meraih keuntungan pribadi, adalah perbuatan yang terlarang.

Rasulullah SAW pun telah memperingatkan umatnya agar tidak tergelincir ke dalam perangkap sanjungan palsu. Beliau bersabda:
“Janganlah kamu menjadi orang yang paling banyak memuji secara berlebihan, karena sesungguhnya hal itu dapat merusak agama orang yang dipuji dan menghilangkan kehormatan orang yang memujinya.” (HR. Abu Daud)

Lebih tegas lagi, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa orang yang hidup dengan cara menjilat, memuji secara tidak benar, serta menutupi kesalahan orang lain demi kepentingan sendiri, akan kehilangan kedudukan di sisi Allah. Jabatan yang didapatkan melalui jalan seperti itu bukanlah kemuliaan, melainkan beban berat yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta.

Islam mengajarkan bahwa jabatan bukanlah barang dagangan yang bisa didapatkan dengan cara menyanjung atau membelokkan kebenaran. Jabatan adalah amanah besar yang hanya pantas dipikul oleh orang yang jujur, berilmu, berani menyampaikan kebenaran, serta tidak takut menegur kesalahan meskipun kepada atasan sekalipun.

Hadirin yang berbahagia,
Mengapa sikap penjilat harus kita hindari dengan sekuat tenaga? Karena dampak buruknya tidak hanya dirasakan oleh pelakunya sendiri, tetapi juga merugikan banyak pihak:
Pertama, Meruntuhkan Martabat Diri.

Orang yang menjadi penjilat sebenarnya telah merendahkan harga dirinya sendiri. Ia rela mengorbankan kejujuran dan nuraninya hanya demi sebuah jabatan. Di mata masyarakat, meskipun ia menduduki kursi yang tinggi, namun ia tidak dihormati. Ia hanya dianggap sebagai orang yang pandai memanfaatkan situasi, bukan orang yang patut diteladani.
Kedua, Menghasilkan Pemimpin yang Tidak Berkualitas.

Ketika jabatan diberikan bukan karena kemampuan dan kejujuran, melainkan karena pandai menjilat, maka orang tersebut tidak akan sanggup menjalankan amanah dengan baik. Ia cenderung hanya memikirkan kesenangan atasan, bukan kepentingan rakyat. Akibatnya, kebijakan yang diambil seringkali tidak berpihak pada kebenaran dan kesejahteraan umum.

Ketiga, Menimbulkan Ketidakadilan.
Banyak orang yang sebenarnya memiliki kemampuan, berilmu, dan berintegritas, namun tersisihkan hanya karena tidak pandai bersilat lidah. Ketidakadilan ini lama-kelamaan akan memicu kekecewaan dan merusak semangat kerja orang-orang yang jujur.
Keempat, Menjadi Beban Berat di Akhirat.
Jabatan yang didapatkan dengan cara yang tidak benar tidak akan membawa keberkahan. Sebaliknya, ia akan menjadi saksi yang memberatkan di hari perhitungan kelak. Allah tidak akan menerima amal perbuatan yang dibangun di atas kebohongan dan kepalsuan.
Hadirin sekalian yang dimuliakan Allah,
Lantas, bagaimanakah cara yang benar dan mulia untuk meraih jabatan atau kedudukan? Islam memberikan jawaban yang jelas: Melalui usaha yang sungguh-sungguh, peningkatan kualitas diri, serta menjunjung tinggi kejujuran.

Seperti firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 58:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya…”

Ini berarti, jabatan seharusnya diserahkan kepada orang yang berhak, yaitu orang yang memiliki kemampuan, keahlian, dan kejujuran. Maka bagi kita yang ingin menduduki jabatan, carilah jalan yang halal: tingkatkan ilmu, asah keterampilan, bangun karakter yang kuat, dan tunjukkan kinerja yang nyata.

Jangan pernah merasa minder karena tidak pandai menyanjung. Sebaliknya, berbanggalah karena Anda tetap teguh pada prinsip dan kebenaran. Seorang pemimpin yang sejati, seperti yang dicontohkan oleh Gubernur kita dan para pejabat yang berintegritas, justru sangat menghargai orang yang berani menyampaikan kebenaran, yang tidak takut mengingatkan jika ada kesalahan, dan yang bekerja tulus demi kepentingan umum.

Ingatlah: Jabatan yang didapatkan dengan kejujuran akan membawa keberkahan, dihormati orang lain, dan menjadi bekal pahala yang tak terhingga di sisi Allah.

Sebagai penutup khotbah ini, marilah kita renungkan kembali: Apakah dalam perjalanan hidup kita, pernah terlintas niat untuk menyanjung berlebihan demi mendapatkan sesuatu? Jika pernah, saatnya kita bertaubat dan memohon ampun kepada Allah. Mari kita perteguhkan tekad untuk selalu berpegang pada kebenaran, menolak menjadi penjilat, dan membangun masa depan dengan kerja keras serta kejujuran.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing hati kita agar tetap teguh di jalan yang lurus, menjauhkan kita dari sifat munafik dan sikap tercela, serta mengangkat derajat kita bukan karena sanjungan orang lain, melainkan karena ketaatan dan amal saleh kita. Aamiin, ya Rabbal ‘alamin.
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.