Soroti Muara Air Kantung, HNSI dan BEM Polman Negeri Babel Dorong Pencegahan Dampak Lingkungan

IMG-20260929-WA0050

 

Sungailiat||Senenknews.com – Kondisi kawasan alur Muara Air Kantung, Jelitik, Sungailiat, menjadi perhatian Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (DPC HNSI) Kabupaten Bangka bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Manufaktur Negeri Bangka Belitung.

Perhatian tersebut dibahas melalui konsolidasi antara HNSI dan BEM Polman Babel yang berlangsung di Warung Kopi ND, Senin (28/09/2026) malam. Pertemuan itu membahas berbagai kondisi yang berkembang di sekitar Muara Air Kantung, mulai dari aktivitas pertambangan, abrasi, keberadaan hutan pinus, hingga kondisi alur muara yang berkaitan langsung dengan aktivitas nelayan.

Ketua DPC HNSI Kabupaten Bangka, Lukman, S.Pd., mengatakan pihaknya memiliki perhatian terhadap keberlangsungan kawasan di sekitar Muara Air Kantung, termasuk wilayah yang berada di belakang kampus Polman Babel dan jarak kegiatan dengan lingkungan sekitar perlu diperhitungkan untuk mencegah munculnya dampak yang lebih besar di kemudian hari dan penolakan tambang timah di belakang area kampus Polman Babel karena jika jaraknya terlalu dekat, dikhawatirkan dapat menyebabkan abrasi,” terangnya.

Tidak hanya soal tambang, Lukman turut menyoroti keberadaan hutan pinus di belakang kawasan Polman Babel. Kawasan tersebut dinilai perlu dipertahankan karena perubahan lingkungan secara terus-menerus dapat memberikan dampak terhadap wilayah sekitar Muara Air Kantung.

“ Kalau hutan pinus di belakang Polman Babel sampai habis dan kawasan tersebut menjadi laut, tentu akan berdampak. Jika pengerukan pasir dan penambangan terus-menerus dilakukan, banyak pihak yang bisa dirugikan, terutama di kawasan Muara Air Kantung,” jelasnya.

Di sisi lain, kondisi alur muara juga menjadi perhatian HNSI. Lukman menyebut sejumlah perahu nelayan telah mengalami kandas yang berdampak terhadap kelancaran aktivitas nelayan sebab persoalan muara ini menjadi kewajiban pihak terkait untuk diperbaiki. Sudah ada beberapa perahu nelayan yang kandas, sehingga tentunya merugikan nelayan,” ungkapnya.

Bagi HNSI, kondisi tersebut tidak seharusnya dibiarkan hingga berkembang menjadi persoalan yang lebih besar. Karena itu, komunikasi dan audiensi dengan berbagai pihak dinilai penting sebagai langkah awal untuk mencari jalan keluar. Tidak mau hanya menjadi penonton. Kalau sudah terjadi, baru kita bertindak. Lebih baik kita mencegah sejak sekarang,” pungkasnya.

Dari kalangan mahasiswa, perwakilan BEM Polman Babel, Bintang, turut menyampaikan keresahan terhadap aktivitas pertambangan yang berlangsung di sekitar kampus. Menurutnya, keberadaan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi perhatian dari sisi lingkungan, tetapi juga dirasakan dalam aktivitas sehari-hari di lingkungan Polman Babel.

“Sebab merasa resah, apalagi aktivitas tambang yang berada dekat dengan Polman Babel dan suara mesin penambangan timah cukup mengganggu aktivitas di lingkungan kampus,” tandasnya.

Bintang mengapresiasi langkah DPC HNSI Kabupaten Bangka yang membuka ruang komunikasi bersama mahasiswa. Menurutnya, konsolidasi tersebut menjadi kesempatan untuk menyampaikan kondisi yang dirasakan sekaligus mencari solusi secara bersama-sama.

Terima kasih banyak atas dukungan DPC HNSI Kabupaten Bangka yang telah mengundang untuk berkonsolidasi dan bersama-sama mencari solusi terkait permasalahan Muara Air Kantung dan nelayan,” tutupnya.