Tangis Haru Pecah, Meliyana Damayanti Saksikan Dua Putrinya Wisuda Bersama di Polman Negeri Babel
Sungailiat ||senenknews.com -Suasana haru menyelimuti ruang terbuka Politeknik Manufaktur Negeri Bangka Belitung Sungailiat, saat Meliyana Damayanti, seorang ibu rumah tangga sekaligus sebagai penjual pantiau legendaris, tak kuasa menahan tangis bahagia menyaksikan kedua putrinya diwisuda secara bersamaan pada hari Rabu(9/9/2026)
Di sampingnya berdiri suaminya Afan yang sehari-hari berprofesi sebagai pengelolah kedai Pantiau ,Selama bertahun-tahun, keringat dan lelah mereka berdua tercurah demi satu tujuan: menyekolahkan anak-anak hingga ke jenjang pendidikan tinggi, meski hidup sederhana mengandalkan penjualan pantiau legendaris ,jajanan khas Bangka yang sudah menjadi sumber penghidupan keluarga ini puluhan tahun.
Saat nama kedua putrinya dipanggil untuk naik ke panggung dan menerima ijazah, tangis haru Meliyana Damayanti pecah. Bahunya berguncang, air mata jatuh membasahi pipi. Semua lelah, bangun pagi-pagi sekali dan berjuang pagi hingga malam seakan terbayar lunas saat melihat kedua anaknya berdiri tegak dengan toga kebanggaan.
“Saya tidak bisa bicara. Hati saya campur aduk. Setiap hari saya dan Abi bangun sebelum subuh, membuat dan mempersiapkan pantiau,gado- gado dan mie kuah ikan lalu menjualnya sampai malam . Kadang ramai , kadang sepi. Tapi kami tidak pernah berniat berhenti. Demi anak-anak, apapun kami lakukan,” ujar Meliyana Damayanti dengan suara tertahan isak tangis, setelah acara wisuda berakhir.
Perjuangan Umi dan Abi bukan hal yang mudah. Dari hasil jualan pantiau mereka mampu membiayai pendidikan kedua putrinya hingga lulus dari Polman Sungailiat, salah satu perguruan tinggi vokasi unggulan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Kedua putrinya pun tak kalah haru. Di hadapan para wisudawan dan keluarga, mereka berlutut memeluk kedua orang tuanya, mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas pengorbanan tanpa pamrih itu.
“Kami tahu setiap rupiah biaya sekolah kami adalah hasil keringat Umi dan Abi. Setiap pagi mereka bangun sebelum kami terbangun. Terima kasih Umi, terima kasih Abi. Kalian adalah orang tua paling hebat di dunia,” ucap salah satu putrinya dengan suara bergetar.
Kisah keluarga ini menjadi bukti nyata bahwa dengan kerja keras, kesabaran, dan tekad yang kuat, keterbatasan bukan penghalang untuk meraih mimpi. Semangat Meliyana Damayanti dan suaminya dalam menjaga tradisi sekaligus mengubah nasib anak-anak melalui pendidikan patut menjadi teladan bagi masyarakat luas.
Kisah penjual pantiau legendaris Afan & Meliyana Damayanti yang kini melihat kedua putrinya wisuda bersama ini pun menjadi inspirasi dan harapan bahwa perjuangan orang tua pasti berbuah kebahagiaan.***Red)
