Haus jabatan dapat berdampak negatif pada individu
Pangkalpinang||senenknews.com- Dari dulu sampai sekarang, jabatan akan sesuatu hal memang selalu menarik manusia untuk memperebutkannya. Manusia berlomba – lomba untuk mendapatkannya walaupun dengan pengorbanan nyawa serta biaya yang tak terkira, merekapun rela asal keinginannya tercapai.
Pembaca setia senenknew.com, Seseorang yang “haus jabatan” memiliki dorongan yang kuat untuk mendapatkan posisi tinggi, seringkali melebihi kebutuhan dasar atau motivasi yang sehat.
Dengan dorongan Ambisi inilah seseorang menjadi tidak sehat ketika mengarah pada perilaku yang kompetitif, manipulatif, atau bahkan merugikan orang lain demi mencapai tujuan.
Pembaca setia senenknew.com ,Adapun Haus jabatan dapat berdampak negatif pada individu itu sendiri, seperti stres, kecemasan, dan hilangnya keseimbangan hidup. Selain itu juga dapat berdampak pada orang-orang di sekitar mereka dan lingkungan kerja.
Padahal dengan seseorang memiliki jabatan yang tinggi serta memiliki kekuasaan, seringkali justru membuat mereka menjadi tersesat dan membuatnya lupa menjadi manusia seutuhnya. Mereka yang haus akan jabatan biasanya berpikir betapa indah dan nikmatnya memiliki jabatan. Dengan Jabatan yang tinggi dan memiliki kekuasan, apapun dapat diraihnya. Dengan memiliki jabatan dan kekuasaan memang bisa memaksa seseorang membutakan hati nurani dan menutup mata hatinya.
situasi seperti inilah seringkali digunakan dalam konteks politik untuk menggambarkan pemimpin yang berambisi untuk memperebutkan serta mempertahankan kekuasaan atau memperluas pengaruhnya dengan segala cara, bahkan dengan cara yang tidak demokratis.
Dalam konteks yang lebih luas, haus jabatan bisa menjadi indikasi adanya masalah dalam diri seseorang, seperti kurangnya rasa percaya diri, kebutuhan akan validasi eksternal, atau bahkan gangguan kepribadian seperti narsisme megalomania menurut Halodoc
Penulis : Indra Jaya.
