HOAX DAN HUJATAN KEBENCIAN DALAM PANDANGAN ISLAM: DILARANG KERAS DAN BERCITARAK BESAR

cE5lVWJTYk84amtmOTNjRUpJTDEydz09-385 (1)

senenknews.com-Di era digital saat ini, informasi dapat menyebar dengan sangat cepat hanya dalam hitungan detik. Namun, kemudahan ini sering kali disalahgunakan dengan penyebaran berita bohong atau yang dikenal sebagai hoax, serta ujaran kebencian yang bertujuan menjatuhkan, memfitnah, atau memecah belah. Dalam pandangan Islam, perbuatan ini bukan sekadar pelanggaran etika, melainkan dosa besar yang dilarang keras oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Hoax: Berita Bohong dan Fitnah

Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi kebenaran. Setiap muslim diperintahkan untuk selalu berkata jujur dan menolak kebohongan. Menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya atau berita yang memang diketahui palsu, merupakan perbuatan yang sangat tercela.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 6:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini mengajarkan kita untuk selalu melakukan verifikasi atau pengecekan kebenaran sebelum menerima dan menyebarkan sebuah informasi. Menyebarkan hoax sama saja dengan berdusta dan melakukan fitnah. Rasulullah SAW bahkan memberikan peringatan yang sangat keras, beliau bersabda:

“Cukup seseorang dikatakan pendusta apabila ia menceritakan segala apa yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Selain itu, fitnah atau tuduhan tidak benar terhadap orang lain termasuk dalam kategori dosa besar, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Hujurat ayat 12 yang melarang orang beriman untuk melakukan ghibah (menggunjing) dan terlebih lagi untuk melakukan buhtan (fitnah/pembohongan besar).

Hujatan dan Ujaran Kebencian

Menggunakan kata-kata kasar, menghina, memaki, atau menyebarkan kebencian terhadap sesama manusia juga sangat dilarang dalam Islam. Islam mengajarkan untuk berbicara dengan kata-kata yang baik dan menjaga lisan dari hal-hal yang menyakiti hati orang lain.

Allah SWT berfirman:

“Dan katakanlah kepada hambaku supaya mereka mengucapkan perkataan yang paling baik. Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan permusuhan di antara mereka…” (QS. Al-Isra: 53)

Hujatan dan kebencian akan menimbulkan permusuhan, perpecahan, dan hilangnya rasa persaudaraan. Perbuatan ini bertentangan dengan tujuan Islam yang ingin membangun ukhuwah (persaudaraan) yang kuat. Rasulullah SAW bersabda:

“Seorang muslim tidak boleh mencaci, tidak boleh melaknat, tidak boleh berbuat jahat, dan tidak boleh memaki.” (HR. Tirmidzi)

Bahaya lain dari hujatan adalah dapat menjadikan pelakunya kehilangan pahala amal salehnya, sebagaimana sabda Nabi SAW: “Orang yang paling banyak mencaci maki, pada hari kiamat nanti mereka tidak akan mendapatkan syafaat.”

Dampak Buruk dan Tanggung Jawab

Dalam Islam, setiap ucapan dan tulisan yang kita keluarkan akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Malaikat Raqib dan Atid selalu mencatat setiap perbuatan dan perkataan manusia.

“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)

Menyebarkan hoax dan kebencian tidak hanya merusak hubungan sosial di dunia, tetapi juga merusak amal ibadah dan menjadi beban dosa yang berat di akhirat. Perbuatan ini juga termasuk membantu syaitan untuk memutuskan tali silaturahmi dan menimbulkan permusuhan antar sesama manusia.
Sebagai seorang muslim, kita wajib menjadi orang yang hati-hati dalam bermedia sosial dan berinteraksi. Jangan mudah termakan isu, jangan menyebarkan berita sebelum dibuktikan kebenarannya, dan jauhi sikap saling menghina atau membenci.

Marilah kita gunakan lisan dan jari kita untuk menyebarkan kebaikan, kedamaian, dan kebenaran, bukan untuk menyebarkan kebohongan dan kebencian yang hanya akan membawa kerugian dunia dan akhirat.***HRY)