MAKNAI QURBAN LEBIH DARI SEKADAR PENYEMBELIHAN, AFFAN: KUNCI UTAMA ADALAH KETAATAN DAN BERBAGI UNTUK SESAMA
Senenknews.com|| saat peringatan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, berbagai pandangan dan pemaknaan mendalam mengenai esensi ibadah kurban banyak disampaikan oleh para tokoh masyarakat, pemuka agama, dan elemen bangsa. Salah satu pemaknaan yang mendalam dan menyentuh sisi kemanusiaan disampaikan oleh Affan, seorang pengamat sosial dan tokoh masyarakat di Bangka Belitung. Menurutnya, memaknai kurban tidak boleh berhenti pada kegiatan menyembelih hewan atau pembagian daging semata, namun harus ditelusuri ke makna hakiki yang tersimpan di balik syariat agung ini.
saat bersilaturahmi ke kediaman Pimpinan umum media online senenknews ,Rabu siang (27/5/2026) Affan menjelaskan bahwa kurban secara bahasa berarti “mendekatkan diri”. Sehingga, tujuan utama dari ibadah ini adalah upaya seorang hamba mendekatkan dirinya kepada Allah SWT melalui ketaatan, sama seperti keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Bagi Affan, kisah keduanya menjadi pondasi utama pemahaman: kurban adalah bukti keyakinan mutlak dan kepasrahan total manusia terhadap perintah Tuhan, di mana keinginan pribadi dikalahkan demi kemuliaan ketaatan.
“Banyak di antara kita yang memahami kurban hanya sebatas ritual memotong hewan dan membagi daging. Padahal, jika kita renungi lebih dalam, daging dan darah hewan yang kita sembelih itu tidak akan pernah sampai ke langit, tidak sampai kepada Allah. Yang naik dan sampai ke hadirat-Nya hanyalah ketakwaan, keikhlasan, dan ketaatan kita. Itulah inti yang saya pegang dan saya maknai dari Idul Adha. Menyembelih hewan itu simbol, tapi menyembelih ego, sifat kikir, dan rasa cinta berlebihan pada harta itulah hakikat sejatinya,” ungkap Affan.
Lebih jauh, Affan menekankan bahwa kurban juga mengandung makna sosial yang sangat kuat dan erat kaitannya dengan kehidupan bermasyarakat. Ibadah ini, ujarnya, adalah jembatan penghubung antara yang mampu dan yang kurang mampu, antara yang berkelebihan dan yang berkekurangan. Melalui kurban, Allah SWT mengajarkan umatnya untuk berbagi, meratakan kebahagiaan, dan memastikan bahwa tidak ada satu pun anggota masyarakat yang tertinggal atau tidak merasakan nikmat di hari raya yang mulia ini.
“Kurban itu pengingat bahwa harta yang kita miliki hanyalah titipan. Mengapa kita diperintahkan berkurban? Agar kita sadar, rezeki yang kita dapat itu ada hak orang lain di dalamnya. Maka, maknai kurban sebagai bentuk tanggung jawab sosial. Ketika daging dibagikan ke tetangga, ke kaum dhuafa, ke yatim piatu, di situlah persaudaraan dipererat, di situlah kesenjangan diperkecil, dan di situlah rasa kasih sayang tumbuh subur. Kurban adalah bukti bahwa kita tidak hidup sendiri, dan kesuksesan kita tidak berarti jika saudara kita masih menderita,” tambahnya.***Red)
Menurut pandangan Affan, semangat kurban juga harus mampu ditransformasikan ke dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya terjadi setahun sekali saat Idul Adha saja. Pengorbanan dalam bentuk tenaga, waktu, pikiran, dan perhatian untuk kepentingan umum, untuk kemajuan daerah, dan untuk kebaikan orang lain, merupakan perwujudan dari semangat kurban yang sesungguhnya.
“Kita bisa berkurban tidak hanya dengan hewan. Saat kita berkorban waktu untuk mengabdi, berkorban perasaan untuk memaafkan, atau berkorban keinginan pribadi demi kepentingan bersama, itu juga kurban. Momen Idul Adha ini harus menjadi titik balik karakter kita. Jadilah manusia yang peka, yang peduli, dan yang selalu siap berbagi, kapan pun dan di mana pun, tidak hanya saat ada hewan yang disembelih,” tegas Affan.
Affan berharap seluruh masyarakat Bangka Belitung dapat merayakan Idul Adha dengan hati yang bersih dan pemahaman yang utuh. Ia berharap ibadah kurban tahun ini menjadi amal yang diterima Allah, menjadi sarana pembersihan diri, serta menjadi penggerak utama untuk mewujudkan masyarakat yang semakin rukun, sejahtera, dan saling mengasihi di bawah naungan persaudaraan yang kokoh.***Red)
