TANAH JARANG BABEL SIMPAN HARGA MAHAL DAN POTENSI RAKSASA, AFFAN: HARUS DIKELOLA CERDAS, BERKELANJUTAN, DAN PENGOLAHAN DI DALAM NEGERI
Pangkalpinang||senenknews.com-Kekayaan alam Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ternyata tidak hanya terbatas pada timah yang sudah mendunia. Di balik lapisan tanah dan kekayaan mineral lainnya, tersimpan satu komoditas bernilai tinggi yang kini menjadi rebutan negara-negara maju dan memiliki peran sangat vital dalam perkembangan teknologi masa depan, yaitu Tanah Jarang atau Rare Earth Elements (REE). Potensi besar ini mulai dikaji lebih dalam, dan memunculkan pandangan serta tanggapan mendalam dari pengamat sosial sekaligus pemerhati pembangunan daerah, Affan.
Menurut penelusuran dan data geologi yang ada, endapan tanah jarang di wilayah Bangka Belitung teridentifikasi memiliki kadar dan volume yang cukup signifikan, bahkan disebut-sebut sebagai salah satu yang terbesar di Indonesia. Unsur tanah jarang ini merupakan bahan baku utama yang tak tergantikan dalam pembuatan beragam perangkat teknologi canggih, mulai dari komponen ponsel, komputer, baterai kendaraan listrik, panel surya, turbin angin, hingga peralatan pertahanan dan kedirgantaraan. Nilai ekonominya sangat tinggi, dan permintaan pasar dunia terus melonjak tajam seiring transisi energi dan kemajuan teknologi global.
Merespons fakta besar ini, Affan memberikan tanggapan yang sangat komprehensif. Ia menilai, keberadaan tanah jarang di Babel adalah anugerah luar biasa sekaligus tantangan besar. Bagi Affan, jika dulu timah menjadi tulang punggung ekonomi daerah selama puluhan tahun ke belakang, maka tanah jarang memiliki peluang besar menjadi komoditas masa depan yang mampu mendongkrak kesejahteraan rakyat secara berlipat ganda, asalkan dikelola dengan benar, cerdas, dan berpihak pada kepentingan daerah.
“Tanah jarang ini ibarat ‘emas baru’ atau ‘vitamin teknologi’ dunia. Harganya sangat mahal, permintaannya sangat tinggi, dan persebarannya di bumi ini sangat terbatas. Fakta bahwa Bangka Belitung menyimpan potensi besar ini adalah kabar gembira sekaligus amanah berat bagi kita semua. Ini bukti lagi bahwa tanah kelahiran kita sangat istimewa, dikaruniai Tuhan kekayaan yang luar biasa melimpah. Potensinya tidak main-main, nilainya bisa berkali-kali lipat dibandingkan komoditas tambang biasa,” ungkap Affan saat bincang -bincang dengan Tim Lipsus ,Kamis (28/5/2026) di kediaman Affan
Namun, Affan mengingatkan agar pemerintah daerah dan masyarakat tidak terbuai hanya oleh besarnya nilai ekonomi semata. Ia mengaitkan pelajaran berharga dari sejarah pengelolaan timah di masa lalu, di mana kekayaan alam diambil banyaknya, namun nilai tambah dan kesejahteraan yang kembali ke masyarakat belum maksimal, serta meninggalkan jejak kerusakan lingkungan. Ia berharap kesalahan masa lalu tidak terulang kembali dalam pengelolaan tanah jarang ini.
“Kita punya pengalaman panjang dengan timah. Kita tahu betul rasanya jika hanya menjadi pengekspor bahan mentah. Kaya alam tapi belum sejahtera rakyatnya. Maka untuk tanah jarang ini, pesan saya tegas: JANGAN DIJUAL MENTAH. Ini komoditas strategis. Nilainya akan jatuh drastis jika kita hanya gali lalu kirim keluar. Potensi besar ini harus diikuti dengan kebijakan besar pula. Pemerintah Provinsi di bawah Bapak Hidayat Arsani harus berjuang keras agar ada industri pengolahan dan pemurniannya dibangun di sini, di Babel,” tegas Affan.
Lebih jauh ia menjelaskan, nilai jual tanah jarang mentah dan yang sudah diolah menjadi produk setengah jadi atau bahan industri bisa berbeda ratusan hingga ribuan persen. Jika pengolahannya ada di Babel, maka dampak ekonomi yang dirasakan akan sangat nyata: terbuka lapangan kerja baru, masuknya teknologi, bertambahnya pendapatan daerah, hingga penguasaan rantai pasok yang lebih kuat.
Selain aspek ekonomi dan nilai tambah, Affan juga menekankan aspek pelestarian lingkungan. Pengolahan tanah jarang diketahui memiliki risiko limbah yang cukup kompleks jika tidak ditangani dengan teknologi dan standar lingkungan yang ketat. Oleh karena itu, ia mendesak agar perizinan dan pengelolaannya sangat dikontrol, tidak boleh sembarangan, dan harus melibatkan partisipasi masyarakat serta penelitian ilmiah yang mendalam.
“Pengelolaan harus berbasis pada prinsip berkelanjutan. Ambil kekayaannya, tapi bumi kita jangan rusak. Jangan sampai nanti kita dapat uang sedikit, tapi bayarnya mahal dengan kerusakan lingkungan yang susah diperbaiki. Pengelolaan harus transparan, ketat aturannya, dan manfaatnya harus jelas mengalir ke rakyat, ke pendidikan, kesehatan, dan pembangunan infrastruktur,” tambahnya.
Di akhir tanggapannya, Affan menyebutkan bahwa keberadaan tanah jarang ini menjadi bukti bahwa masa depan ekonomi Bangka Belitung masih sangat cerah dan punya harapan besar. Ia sangat mengapresiasi langkah-langkah Gubernur Hidayat Arsani yang selama ini sangat serius menata ulang pengelolaan SDA, membenahi data, dan memperjuangkan hak daerah. Menurutnya, pola kepemimpinan yang tegas, jujur, dan berani berjuang ke pusat adalah modal tepat untuk mengawal potensi besar tanah jarang ini menjadi berkah nyata.
“Kita percaya visi Bapak Gubernur Hidayat Arsani mengelola kekayaan alam untuk kesejahteraan rakyat. Dengan potensi tanah jarang ini, jika dikelola benar, mimpi menjadikan Babel makmur, mandiri, dan sejahtera bukan lagi mimpi. Ini peluang emas. Mari dukung pemerintah mengawal ini agar tidak lepas, tidak bocor, dan tidak salah kelola. Potensinya besar, tanggung jawabnya pun besar, tapi hasilnya akan luar biasa bagi kita semua,” pungkas Affan.**Red)
